Kamis, 19 Februari 26 07:08 WITA

Longsor Rusak 21 Rumah dan Jalan Poros, Mobilitas Samarinda-Balikpapan Terhambat

Rabu, 21 Mei 2025
Tanah amblas di Desa Batuah.

SAMARINDA – Longsor yang terjadi di Kilometer 28, Jalan Soekarno-Hatta, Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, Kutai Kartanegara, bukan sekadar bencana lokal. Kejadian ini menghantam langsung jalur vital penghubung dua kota utama di Kalimantan Timur: Samarinda dan Balikpapan.

Kerusakan tak hanya menyasar rumah-rumah warga. Badan jalan utama yang menjadi poros mobilitas antarkota juga ikut amblas. Akses logistik, perjalanan masyarakat, hingga rantai pasok terganggu total.

Hingga Rabu (21/5/2025), Kepala Desa Batuah, Abdul Rasyid, mencatat setidaknya 21 rumah terdampak longsor, melibatkan 28 kepala keluarga dan 88 jiwa. Ia memperingatkan bahwa kondisi masih bisa memburuk.

“Jumlahnya kemungkinan bertambah karena pergerakan tanah masih terjadi,” ujar Abdul Rasyid.

Longsor diketahui mulai mengancam sejak Kamis (15/5/2025). Pemerintah daerah dan pusat segera merespons dengan penanganan darurat. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kaltim mulai bergerak mengamankan lokasi.

Langkah darurat yang dilakukan meliputi penguatan tebing, pemasangan rambu, serta normalisasi aliran air menggunakan bak kontrol dan pipa. Semua itu demi menjaga kelancaran lalu lintas yang tersendat sejak kejadian.

Namun, proses pemulihan jalan menghadapi sejumlah tantangan. Selain permintaan akses dari warga untuk menyelamatkan barang, penebangan pohon hingga relokasi tiang listrik oleh PLN masih jadi hambatan di lapangan.

“Kami juga masih menunggu relokasi tiang listrik oleh PLN agar bisa membuka dua jalur baru,” kata Kepala Bagian Umum dan Tata Usaha BBPJN Kaltim, Budi Faizal.

Ia menambahkan bahwa investigasi kondisi tanah lewat boring test akan dilakukan pada Kamis (22/5/2025). Pemeriksaan ini akan didampingi oleh tim dari P2JN sebagai dasar rencana pemulihan permanen.

Sayangnya, meski penanganan terus berjalan, BBPJN masih menanti dokumen resmi kebencanaan dari Bupati Kutai Kartanegara. Dokumen ini penting untuk membuka jalan bagi skema jangka panjang, termasuk kemungkinan pengalihan trase jalan yang lebih aman dari ancaman longsor.

“Hingga kini, meskipun lalu lintas masih bisa dilewati, warga di sekitar lokasi tetap waspada terhadap ancaman longsor susulan. Kita pun terus berupaya mempercepat penanganan agar akses vital dan keselamatan warga tetap terjaga,” tegas Budi Faizal. (*)

Share Link: