Kamis, 19 Februari 26 07:09 WITA

Sentra Tenun Jadi Langkah Awal Berau Tinggalkan Tambang

Rabu, 21 Mei 2025
Gamalis saat melakukan peresmian sentra tenun.

TANJUNG REDEB – Kabupaten Berau mulai menapaki jalan baru untuk meninggalkan ketergantungan pada sektor tambang. Salah satu langkah awalnya adalah pembangunan sentra tenun di Kampung Sukan Tengah, Kecamatan Sambaliung. Sentra ini diresmikan pada Selasa, 20 Mei 2025 oleh Dirjen Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA), Reni Yanita, didampingi Wakil Bupati Berau, Gamalis.

Sentra tenun ini dibangun lewat skema Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik dari Kementerian Perindustrian, melalui dua tahap pengerjaan pada 2022 dan 2024. Ini melengkapi sentra sebelumnya yang telah berdiri di Kampung Tumbit Melayu.

Pemerintah Kabupaten Berau menargetkan industri tenun menjadi bagian penting dari wajah baru ekonomi kreatif daerah. Di tiga kampung—Sukan Tengah, Tumbit Melayu, dan Trans Bangun—telah terbentuk kelompok pengerajin dengan total 37 orang. Mereka menjadi ujung tombak dalam menghidupkan kembali kekayaan wastra lokal khas Bumi Batiwakkal.

Namun geliat tenun di Berau belum sepenuhnya kokoh. Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Berau, Eva Yunita, menjelaskan bahwa pemasaran produk masih berjalan secara terbatas. Produksi yang tidak menentu juga membuat harga bahan baku dan produk jadi fluktuatif. Ia menambahkan, permodalan menjadi tantangan tersendiri. “Selama ini masih melayani pemesanan by order saja. Permodalan juga masih terbatas,” ujarnya menegaskan.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Berau mulai menyusun peta jalan ekonomi pasca-tambang. Wakil Bupati Gamalis mengatakan, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif akan menjadi tumpuan utama untuk menggerakkan ekonomi. Ia menyebut bahwa sektor ini memiliki banyak cabang yang bisa dikembangkan lebih lanjut, termasuk wastra lokal. “Kami memberikan apresiasi kepada pemerintah pusat dan provinsi yang telah memberikan dukungan dalam pembangunan sentra tenun ini,” ucapnya.

Dirjen IKMA Reni Yanita mengingatkan bahwa pembangunan fisik hanyalah langkah awal. Ia menilai perlu ada penguatan ekosistem industri dari hulu ke hilir, mulai dari penyediaan peralatan, pelatihan SDM, hingga perluasan pasar. Ia juga mendorong para pengerajin agar tidak hanya mempertahankan produk lama, melainkan juga mulai melakukan diversifikasi sesuai tren pasar. “IKM ini memiliki potensi besar. Sampai triwulan satu ini industri pengolahan telah memberikan kontribusi 18,8 persen terhadap PDRB dengan serapan tenaga kerja mencapai 65,52 persen,” katanya.

Reni juga menekankan pentingnya pengembangan motif lokal yang khas agar tenun Berau punya identitas kuat dan tidak mudah ditiru. Jika itu bisa dicapai, ia optimistis pemasaran tidak hanya terpusat di wilayah lokal. “Saya minta perkuat motif ini,” tegasnya.

Langkah Berau membangun sentra tenun bukan sekadar program pembangunan. Di baliknya, tersimpan harapan besar: menenun ulang arah ekonomi yang tak lagi bertumpu pada perut bumi, tapi pada kekayaan tangan dan budaya.

Share Link: